21 Apr 2017 Salju Musim Semi di Jepang : Tateyama Kurobe Alpine Route

Posted in: Japan

Salah satu spot wisata pegunungan terkenal yang wajib dikunjungi dan menjadi impian kami bersama adalah Tateyama Kurobe Alpine Route yang tahun ini dibuka tanggal 15 April – 30 November 2017. Rute ini menembus pegunungan dan di ketinggian 2500 meter yang menghubungkan 2 kota yaitu Tateyama di Prefektur Toyama dan Shinano-Omachi di Prefektur Nagano. Tateyama Kurobe Alpine Route ini akan ramai dikunjungi pada musim semi, dan ditutup pada musim dingin. Jadi waktu terbaik untuk datang dan berkunjung ke Tateyama Kurobe Alpine Route adalah pada bulan April – Juni, terutama jika ingin melihat wisata menakjubkan yang dikenal dengan sebutan Snow Wall / Snow Corridor Tateyama atau dinding salju tinggi di Gunung Tateyama, dimana kita bisa berjalan diantara tembok salju yang ketinggiannya bisa mencapai 20m, selain itu juga rute ini dilalui dengan berbagai sarana transportasi termasuk cablecars, trolley bus dan ropeway. Rute ini dapat dikunjungi dengan perjalanan 1 hari pulang pergi dari Tokyo, tapi kita harus berangkat pagi sekali untuk menghemat waktu perjalanan, semuanya ini tercover dengan membeli Tateyama Kurobe Option Ticket seharga 9000 yen sekali jalan dari stasiun Nagano ke stasiun Dentetsu-Toyama atau sebaliknya.

Snow Wall – Japan

 

Kami berangkat dari apartemen tempat kami tinggal di area Shinjuku sekitar jam 6 pagi menggunakan subway menuju stasiun Tokyo dan dari stasiun Tokyo menggunakan Hokuriku Shinkansen menuju stasiun Nagano. Tiba di stasiun Nagano kami menggunakan local bus menuju Ogizawa. Perjalanan menuju Ogizawa sekitar 1 jam 45 menit kami dimanjakan dengan pemandangan cantik hamparan kebun, sungai maupun pohon – pohon sakura sepanjang jalan. Mendekati Ogizawa, kami mulai melihat pegunungan yang diselimuti salju, rasanya pengen cepat-cepat sampai, pengen banget ngerasain salju. Setibanya di Ogizawa, kami berlari menuju pintu masuk karena ternyata banyak banget turis-turis dateng dan sebagian besar menggunakan tur. Perjalanan pun dimulai….

Rute 1 : Ogizawa – Kurobe Dam

Kami tiba di Ogizawa sekitar jam 9 dan kami pun mulai antri dengan memegang Tateyama Kurobe Option Ticket kami masing – masing untuk naik trolley bus. Ini adalah bus bertenaga listrik yang menghubungkan stasiun Ogizawa dengan Kurobe Dam yang melewati terowongan menembus gunung. Keluar dari terowongan, kami langsung disuguhkan pemandangan menakjubkan yaitu Bendungan Kurobe atau Kurobe Dam. Ini merupakan bendungan tertinggi di Jepang (186 meter) yang sebenarnya paling bagus dikunjungi ketika musim panas. Karena pada saat musim panas, ketika pintu air dibuka, bendungan Kurobe ini akan memperlihatkan 15 ton per detik air yang dibuang dari dam, meskipun begitu bendungan ini tetap menarik ketika kami melihatnya. Kami menikmati pemandangan Kurobe Dam dengan berjalan kaki menuju terowongan berikutnya yaitu Kurobeko.

Pemandangan Kurobe Dam

 

 

Rute 2 : Kurobeko – Kurobedaira – Murodo – Bijodaira

Antrian Kurobe Cable Car

Tiba di Kurobeko, kami antri lagi untuk naik Kurobe Cable Car. Karena kami jalan sendiri dan tidak ikut tur, jadinya ada jalur antrian sendiri sehingga lebih cepat.Perjalanan menuju Kurobedaira menggunakan cable car ditempuh dalam waktu 5 menit dan semakin menuju ke puncak. Kurobedaira terletak 1282m dari permukaan laut. Di lokasi ini juga merupakan tempat peristirahatan pertama, jadi banyak yang jual makan. Karena kami belum lapar, jadinya tidak singgah dan disini juga pengunjung bisa keluar dan menikmati salju, tetapi kami tidak keluar karena menghemat waktu. Kami langsung menuju antrian untuk naik Tateyama Ropeway. Sekali lagi antrian untuk yang tur dan individu dipisah, jadinya kami tidak perlu menunggu lama.

 

Rute 3 : Kurobedaira – Daikanbo – Murodo – Bijodaira

Transportasi selanjutnya menuju Daikanbo adalah menggunakan Tateyama Ropeway atau kereta gantung. Panjang kereta gantung ini adalah 1,7 km dan tidak ada menara penopang di tengah-tengahnya. Jadi penopangnya cuma di antara Kurobedaira dan Daikanbo. Dari dalam ropeway kami bisa menikmati pemandangan lembah dan perbukitan yang masih ditutupi salju meskipun agak ngeri karena tinggi juga ropeway nya. Waktu tempuhnya sekitar 7 menit menuju Daikanbo. 

Pemandangan dari atas ropeway…..amazing 🙂
Snow Wall dengan ketinggian 19m

Kemudian kami melanjutkan perjalanan selama 10 menit menggunakan Tateyama Tunnel Trolley Bus untuk sampai di Murodo. Ini adalah bagian terbaik dan yang kami tunggu – tunggu dari rute pegunungan Alpen Jepang. Kenapa? Karena disinilah kita bisa melihat dinding salju yang tebalnya bisa lebih dari 10 meter dan kita bisa berjalan kaki diantara tembok salju setinggi 10 – 20 meter. Ini adalah pengalaman yang luar biasa, meskipun cuaca sangat dingin, tetapi, jangan sampai salah kostum disini, karena suhu diluar bisa dibawah 0 derajat, meskipun pada siang hari dimana matahari ada di atas kepala. Pada waktu kami tiba disana, dinding salju mencapai ketinggian 19m dengan suhu udara -2° wahhhh senangnya luar biasa, thxxxx GOD !

Dream comes true…. #SnowWall

Kami berjalan kaki sampai batas yang ditentukan, kemudian harus balik lagi ke stasiun Murodo, cukup lama waktu yang kami habiskan di Murodo untuk bermain salju. Ada beberapa orang Jepang yang kami lihat melakukan pendakian ke puncak….wah kami sampai terheran – heran begitu hebatnya bisa menahan diri dari angin yang berhembus kencang , tetapi mereka ternyata datang sudah dengan perlatan lengkap untuk mendaki seperti jacket, syal, topi, tongkat, sepatu gunung, dll. Udara dingin semakin menusuk, kami bergegas kembali ke stasiun Murodo, tetapi jalan tetap harus hati – hati agar tidak terjatuh karena panas matahari membuat salju mencair dan beberapa bagian jalan menjadi becek. Sesampai di stasiun Murodo, gelombang wisatawan sangat padat, sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Bijodaira dengan menggunakan bus.Meskipun lapar, kami tidak singgah makan karena melihat begitu banyaknya orang, tetapi di stasiun Murodo kami sempat membeli bakpao panas dengan harga 300 yen….lumayan untuk mengganjal perut dan juga membeli beberapa souvenir kecil seperti gantungan kunci maupun tempelan kulkas sebagai kenang – kenangan. Perjalanan ke Bijodaira membutuhkan waktu sekitar 50 menit jadi kami sempat tertidur di bus saking capeknya.

Rute 4 : Bijodaira – Stasiun Tateyama

Kami tiba di stasiun Bijodaira sudah sore, singgah toilet sebentar kemudian kami antri untuk naik Tateyama Cable Car menuju Tateyama Station. Cable Car nya sama dengan Kurobe Cable Car, tapi kali ini bedanya tidak di dalam terowongan, jadi bisa lihat pemandangan. Sayangnya karena sangat padat, jadi tidak sempet untuk foto – foto. Perjalanan cukup singkat yaitu 7 menit.

Rute 5 : Tateyama Station – Dentetsu Toyama

Tiba di stasiun Tateyama, kami kembali antri lagi menunggu  kereta yang akan membawa kami. Antrian sangat rapih dan di Jepang semua alat transportasi umum tiba tepat waktu, kalaupun ada keterlambatan itu tidak lebih dari 2 menit. Kereta dari stasiun Tatyema ke Dentetsu Toyama ini sama kayak naik commuter line Bogor-Jakarta. Jalur ini adalah jalur lokal, melewati rumah penduduk, kebun – kebun serta sungai. Kami banyak melihat pemandangan yang bagus sepanjang perjalanan. Di atas kereta kami bertemu beberapa keluarga orang Indonesia yang berasal dari Jakarta dan Semarang, mereka pun ternyata sama seperti kami, modal nekat untuk jalan tanpa tour. Setelah 1 jam perjalanan, kereta pun tiba di Dentetsu Toyama.

Rute 6 : Dentetsu Toyama / Stasiun Toyama – Stasiun Tokyo

Setelah tiba di Dentetsu Toyama, kami berjalan menuju Toyama Station, karena Shinkansen ke Tokyo berhenti di Toyama Station. Jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 5 menit jalan kaki. Dari Toyama ke Tokyo kami naik Shinkansen Hokuriku keberangkatan jam 17:26 dan tiba di Tokyo jam 19:44 (total waktu 2 jam 18 menit, di cover JR Hokuriku Pass).

Rute Perjalanan Dentetsu Toyama ke Tokyo

Hari ini benar-benar menyenangkan buat kami. Kami sangat menikmati salju di musim semi dan sebelum pulang kami mampir untuk makan ramen di stasiun Tokyo. 

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *