Sensasi Mendaki Via Ferrata di Gunung Parang Purwakarta

Posted in: Jawa Barat

Sabtu 7 Oktober 2017 kami akan mencoba memacu adrenalin di Purwakarta, tepatnya mencoba wisata ekstrim panjat tebing via ferrata di Gunung Parang. Via ferrata berasal dari Bahasa Italia yang artinya jalur besi. Ini adalah teknik memanjat dengan mendaki tangga besi yang “ditanam” di sepanjang dinding tebing. Via ferrata sendiri sudah ada sejak abad ke-19, dimulai pada perang dunia pertama. Dan di seluruh dunia sudah ada 1000 lebih jalur via ferrata, yang terbanyak di Italia dan Austria.

Via Ferrata Gunung Parang Purwakarta

Gunung Parang yang terletak di Purwakarta, Jawa Barat adalah lokasi rock climbing popular di Indonesia. Tebing yang vertikal menjadi tantangan bagi pemanjat tebing domestik maupun mancanegara.  Namun, kini tak hanya pemanjat tebing professional yang bisa mendaki Gunung Parang, tetapi siapa pun bisa memanjat tebing ini via ferrata hingga ketinggian 700 meter diatas permukaan tanah dan gunung Parang merupakan via ferrata tertinggi ke-2 di Asia.

Ki-ka : Mbak Rina, me, Sinyung, Nita, Mariati (minus Alex)

Kami yang berangkat ini ber-enam : saya, Nita, mbak Rina, Sinyung, Mariati dan Alex. Perjalanan dari Jakarta ke Purwakarta dengan kendaraan pribadi tidak terlalu jauh sekitar 2 jam-an….tetapi tol arah Bandung atau tol Cipularang cukup padat dengan truk dan mobil pribadi, ditambah lagi kami butuh waktu  mencari lokasi  basecamp yang ditentukan, sehingga kami tiba agak lambat.

Pihak operator wisata via ferrata SkyWalker yang kami gunakan menawarkan fasilitas lengkap termasuk transportasi pulang pergi Jkt – gunung Parang, makan, dokumentasi, sleeping bag, tenda dan pemandu dengan membayar biaya Rp.650.000,- / orang (menginap 1 malam atau istilahnya Sky Camp) tetapi karena kami membawa kendaraan sendiri, jadi kami hanya membayar Rp.550.000, – / orang. Kami memutuskan membawa kendaraan sendiri denan pertimbangan lebih santai dan rencana juga kami mau putar – putar menikmati kota Purwakarta setelahnya.

Sekitar jam 11 kami tiba di lokasi basecamp Sky Walker via ferrata, tepatnya dibawah kaki gunung Parang. Udara panas menyengat, tetapi lokasi basecamp sangat asri karena ditata dengan rapih juga disediakan beberapa hammock untuk bersantai, toilet bersih serta pastinya charging station.

Enjoy the time

Ketika kami tiba sudah ada beberapa kelompok lain juga yang mulai berdatangan, bahkan kami melihat beberapa orang asing alias turis dan yang lebih surprise lagi ada seorang anak kecil laki – laki mungkin usianya 10 tahun….keren…tidak dipungkiri bahwa via ferrata telah menjadi wisata adventure untuk keluarga.

Kelompok kami jalan belakangan, karena kami akan melakukan kegiatan Sky Camp alias nginap diatas tebing, sedangkan kelompok – kelompok lainnya yang jalan duluan, mereka naik kemudian langsung turun. Sebelum naik kami makan siang dahulu, o iya selain kami ber-enam, ternyata masih ada teman – teman lain juga yang akan mengikuti Sky Camp, jadi totalnya kami 13 peserta bersama 2 pemandu : Mas Jodi & Mas Amon.

Beberapa persiapan yang perlu dilakukan sebelum memanjat gunung Parang agar aman yaitu :

  1. Pakaian yang digunakan senyaman mungkin, disarankan pakaian olahraga dan berwarna terang, supaya cantik difoto. Saya lebih memilih menggunakan kaos lengan panjang supaya tidak belang karena panas matahari dan celana jogger 3/4.
  2. Sepatu sebaiknya menggunakan sepatu olahraga / kets. Ada teman yang menggunakan sandal gunung, tapi menurut saya tidak tepat, karena membuat kaki lecet.
  3. Gunakan sunblock untuk melindungi kulit dari sinar matahari.
  4. Sarung tangan, ini wajib dipakai ya….untuk menghindari lecet pada tangan.
  5. Selain itu juga kami membawa perlengkapan pribadi masing – masing dalam ransel seperti : snack, baju ganti, handuk kecil, air minum, obat – obatan pribadi, jas hujan, sarung tangan, kamera, powerbank.

Rencana jam 3 sore kami mulai jalan, tetapi agak molor dari waktu yang ditentukan karena menunggu peralatan keamanan yang digunakan peserta sebelumnya. Langit tiba – tiba menjadi mendung dan hujan gerimis pun mulai turun, kami mejadi khawatir, tetapi Mas Jodi menenangkan kami untuk santai, bahwa semuanya aman. Sekitar jam 4 kami semua telah menggunakan perlatan keamanan seperti Helm sebagai pelindung kepala, Seat Harness yaitu tali yang dipasang melingkari pinggang dan paha sebagai penyangga berat badan.

Waktunya berangkat ….

Dari basecamp kami harus berjalan kaki sekitar 10 menit menuju kaki tebing melewati hutan dan jalanan menanjak. Setelah sampai di kaki tebing, kami diberikan pengarahan dan petunjuk cara menaiki via ferrata / tangga besi dan setelahnya kami berdoa bersama agar kegiatan ini lancar.

Jujur….saat itu tegang sekali, apalagi ketika memandang keatas melihat jalur via ferrata, bisa gak ya….ada ketakutan dan keinginan menyerah…tapi….sudah sampai sini…jauh – jauh dari Makassar lagi….maju !!!!

Berfoto bersama sebelum memulai pendakian

Satu persatu kami menaiki tangga besi, target kami memanjat setinggi 350 meter via ferrata atau 600 meter jika diukur dari permukaan laut. Perjalanan normal menurut mas Jodi sekitar 2 jam.

Tiap kali menjejakkan kaki di tangga besi, wajib mengaitkan dua carabiner kita ke tali yang sudah dipasang di pinggir tangga besi. Kenapa dua ? Agar pengamananya dobel, berjaga – jaga bila yang satu terlepas, masih ada pengaman satunya. Pendakian ini sangat aman, tetapi yang perlu dipersiapkan adalah “mental”.

1/4 perjalanan berlalu….rasa lelah luar biasa, keringat bercucuran, tangan kaki gemetaran….rasa penyesalan pun bermunculan. “Bisa – bisanya ikut kegiatan ini ?, “Menyiksa diri banget ini ?”, “Sudah aman jadi diver, enak di laut lihat ikan, santai, ini mau coba aneh – aneh ?” Ahhhhhh…..nasi sudah jadi bubur, gak bisa turun lagi….pilihan saat itu ditengah kelelahan luar biasa yaitu bergantung ditebing sambil istirahat menikmati pemandangan luar biasa dari waduk Jati Luhur dan sekitarnya.

Pemandangan luar biasa

 

Capek….tapi keren 🙂

Jalur pendakian beragam, ada yang lurus keatas, juga ada yang merayap ke samping. Dua – duanya sama beratnya 🙁 karena harus mengangkat badan keatas dan menjaga keseimbangan.

Aneka Style 🙂 tergantung keberanian…hehehe

Saya menjadi peserta terakhir yang mencapai lokasi basecamp diatas gunung Parang 🙂 teman – teman lainnya sudah diatas, benar – benar berlaku pepatah “Biar lambat, asal selamat”. Langit sudah menjadi gelap, bulan pun mucul menggantikan tugas matahari beserta gerimis mulai turun lagi dan jam menunjukkan hampir pukul 7 malam, saya sudah gak kuat untuk memanjat lagi tangan dan kaki gemetaran, jantung berdebar kencang, nafas ngos-ngosan dan rasanya haus terus. Saya sudah berpikir untuk menyerah saat itu, gak sanggup lagi melanjutkan ke atas. Biar saja duduk di tebing sambil memandang terang bulan. Apalagi saat itu full moon.  Untung Mas Amon yang menjadi guide baik sekali, dia sabar menunggu dan menyemangati saya untuk naik, sambil menarik saya ke atas. Memang jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi, tapi saya merasa sangat jauh. Dihitung – hitung selama proses perjalanan, saya sudah menghabiskan 4 botol air mineral ukuran 600ml…luar biasa 🙂 Tepat jam 7.40 (menurut jam Nita) akhirnya sampai juga keatas….ahhhhhh….thx God !

Tenda sudah terpasang dan yang saya inginkan saat itu adalah minum….benar – benar dehidrasi berat. Rasa capek dan lapar bergabung menjadi satu. Obat yang paling enak saat itu adalah berbaring sambil menggosokkan counterpain pada bahu yang rasanya sakit sekali karena membawa ransel, luar biasa khasiat counterpain….rasa panas menjalar….sedikit melegakan ketegangan otot. Teh panas manis juga menjadi salah satu pelega tenggorokan dan tibalah makan malam nasi goreng ala Mas Jodi….rasanya luarrrrrrr biasaaaaaaa ennnnnnakkkkkkk…..

Morning view Gunung Parang

Saya tidur nyenyak sekali malam itu dan paginya terbangun dengan seluruh badan pegal – pegal ….rasanya mimpi kemarin bisa melewati perjalanan panjang yang rasanya mustahil dilewati. Terima kasih Tuhan…pelajaran luar biasa yang boleh saya dapatkan…..

Kami menikmati pemandangan pagi yang luar biasa sambil minum secangkir kopi / teh, membayangkan karya Tuhan yang luar biasa bagi hidup kami. 

Sambil menikmati pemandangan pagi, kami saling berkenalan dan mengobrol satu sama lain….dapat teman – teman baru lagi….:-)

Muka bantal

Kali ini kami sarapan Indomie goreng ala Mas Jodi….sekali lagi rasanya luar biasa enak hehehe 🙂 thx Mas Jodi.

Indomie goreng spesial ala Mas Jodi 🙂

Setelah sarapan, kami membereskan perlengkapan tenda, hammock dll serta memakai perlengkapan keamanan dan bersiap – siap untuk turun. Sekali lagi kami diberi pengarahan untuk turun dan kali ini selain melewati tangga besi, kami juga akan turun dengan memakai tali yang menggunakan katrol.

Menuruni via ferrata tidak terlalu sulit dibandingkan naiknya….setidaknya saya bisa sedikit menikmati perjalanan turun  🙂 tapi tetap saja ada beberapa tebing yang butuh energi dan strategi untuk dilewati. Tetapi ini adalah pengalaman hebat yang kayaknya kalau mau mengulang…pikir – pikir lagi hahahah 😀

 

Author

1 thought on “Sensasi Mendaki Via Ferrata di Gunung Parang Purwakarta”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *